Latest News

Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Cinta Abu-Abu (Karya Reffi Dhinar)



“Aku ini seorang pendusta.” Itu kalimat singkat yang keluar dari bibir menggodanya. Aku masih setengah tersadar saat dia meneleponku kemarin malam. Aku membayangkan ia telah mempersiapkan diri dan hatinya kuat-kuat sebelum kalimat itu terucap. Rambutku masih kusut masai. Kedua kakiku begitu nyeri dan linu, akibat seharian berada di lapangan mendampingi bosku yang sedang menginspeksi pembangunan proyek mal super megah di kota kami.
Aku tak menjawab apapun. Mataku yang terasa berat dan tubuh setengah mati kelelahan, membuatku hanya diam dan nyaris kehilangan kemampuan menerka emosi. Kututup sambungan telepon lalu kulepas batere handphone. Tahu-tahu aku sudah terbangun keesokan pagi, tanpa tahu mulai kapan aku tertidur. Kupasang kembali batere handphone dan menyalakannya dengan rasa was-was. Apakah semalam aku hanya sedang bermimpi? Ataukah itu nyata dan aku setengah berharap semuanya memang benar-benar tak pernah terjadi?
Baru sekitar dua menit layar handphoneku aktif, dering khusus tanda panggilan masuk darinya mengejutkanku.
“Halo,” aku membuka pembicaraan dengan nada bergetar. Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi, untungnya ini hari Minggu sehingga aku tidak perlu terburu-buru mandi dan berangkat kerja.
“Iya, halo. Bagaimana semalam? Nyenyak tidurnya?” tanyanya lembut. Intonasi dan nada suara yang selalu kurindukan.
“Nyenyak sekali, sampai-sampai aku tidak bermimpi sama sekali,” jawabku.
Kudengar suara keran air diputar. Bunyi air yang memancar deras sedikit menimbulkan suasana berisik.
“Kenapa keran airnya dibuka? Suaramu jadi tidak terlalu jelas kedengarannya,” aku memprotes sebal karena kurasa tingkah lakunya sangatlah aneh.
“Maaf ya, aku hanya ingin agar suasana tidak terlalu sepi,” tukasnya perlahan, sangat khas dirinya yang seolah berusaha menata kata-kata yang terucap dan ini menunjukkan dia sedang dirundung gelisah.
“Masalah semalam..”
Belum selesai aku berkata dia sudah menyela,”Sebaiknya kamu memikirkan lagi semuanya masak-masak. Aku ini orang yang sudah tidak pantas untuk kau beri ketulusan apalagi kepercayaan, rasanya aku bertindak kurang adil padamu,”
Terjadi lagi. Lelaki ini berkata mengenai rasa bersalah yang sudah menyiksanya selama beberapa bulan. Alhasil aku jadi teringat dengan peristiwa menyakitkan itu, lukaku kembali sedikit menganga. Aku malas menanggapi perkataannya. Bagiku, masa lalu tetap akan menjadi masa lalu bagaimanapun buruknya itu.
“Tentang perempuan itu lagi? Apakah kamu sedang bimbang untuk kedua kali?”
“Bukan Giska. Hal ini berbeda. Aku ini sudah pernah menyakitimu dan bagiku kesalahanku lalu tidak bisa termaafkan,”
Ya aku masih ingat dengan jelas. Ingatanku mungkin akan selalu menyimpan piringan hitam kejadian menyakitkan itu, saat ia mengaku jika hatinya telah terbagi. Aku tak menangis. Hatiku terasa kosong dan hampa. Justru aku tersenyum dan mengusap air matanya yang mengalir. Aku merasa semua ini akan segera berlalu jika kami sama-sama berusaha saling memperbaiki diri.
“Hal itu terjadi juga karena sikapku yang terlalu keras dan bertingkah seenaknya sendiri,” ujarku.
Ganti dia yang diam. Bunyi keran air di seberang menggantikan suara lembutnya. Aku seperti sedang bicara sendirian. Tiba-tiba saja aku merasa sangat lelah.
“Aku merasa, aku tidak pantas untuk menjadi orang yang paling kamu sayangi,”
“Valdo Ardian Saputra. Dengarkan kata-kataku,” potongku tak sabar sambil berkaca dan menatap wajahku yang sedikit mengerikan. Mataku bengkak dan menghitam, sial mungkin aku menangis sambil tertidur.
“Apakah kamu sendiri sudah benar-benar bertekad untuk keluar dari bayang-bayang masa lalu?” tanyaku lagi seraya mengompres mataku dengan handuk kecil dan segenggam es batu.
Valdo, nama kekasih yang sangat kusayang dan sekaligus sangat membingungkan ini tetap nyaman dengan keheningan. Aku membayangkan kalau ia sekarang sedang menatap air yang memancar dari keran dengan sikap khidmat, terhanyut dalam pusaran air dan pikirannya sendiri. Jika berbicara tentang luka, sebenarnya aku juga menjadi pihak yang sangat menderita. Perempuan mana yang siap mendengar cerita bahwa kekasihnya sempat berpaling pada perempuan lain. Pukulan telak itu membuat duniaku sempat kabur, namun sebelum aku meledak murka, aku berpikir sejenak.
Selama tiga tahun aku menjalin kasih bersama Valdo, aku menjadi sosok egois yang tak mempedulikan perasaannya. Aku sering menyalahkan Valdo atas hal-hal sepele yang seharusnya tidak menjadi masalah besar. Pelan-pelan aku melatih Valdo untuk berpaling. Pasti dia menjadi begitu lelah dengan sikapku hingga akhirnya ada seorang perempuan yang memerhatikannya, hingga hatinya terbagi.
“Halo, halo, kamu masih di sana kan Giska?” suara Valdo membuyarkan lamunanku.
Aku berkaca sekali lagi. Bengkak di pelupuk mata sudah mulai berkurang,”Iya aku masih di sini,”
“Aku sangat mencintaimu, tapi aku tak tahu apakah aku pantas untuk menjadi pendamping hidupmu. Mungkin sebaiknya kamu mulai membuka mata dan hati pada orang lain,”
Aku terkesiap mendengar ucapan Valdo barusan. Mudah sekali ia berkata seperti itu? Apa dia pikir, hanya dia satu-satunya yang hancur? Aku tak pernah menyangka jika ia tega berbicara seperti ini.
“Hmm, aku sudah memaafkan dan kamu juga sudah menunjukkan banyak perubahan baik.  Tetapi jika sampai sekarang rasa bersalah membuatmu tidak mau berjuang bersamaku lagi, apa yang bisa kulakukan? Kurasa sebaiknya kita merenung sendiri-sendiri dulu. Sudah ya, aku harus mandi dan sarapan, sampai pikiranmu dan pikiranku tenang, kita bisa melanjutkan pembicaraan lagi.” tanpa menunggu salam dari Valdo aku memutuskan telepon.
***
Sepanjang perjalanan menuju bioskop, aku hanya diam dan menatap jalanan Surabaya yang cukup lengang di hari Minggu. Riva, sahabat baikku, berkali-kali mengomel karena aku tidak terlalu menanggapi ocehannya.
“Udah deh Gis. Sekarang kan kita mau nonton plus hang out buat seneng-seneng. Mukamu jangan ditekuk macam kasur lipet gitu dong,” omelnya. Riva menjemputku siang ini untuk menghiburku yang sedang galau- itu menurutnya. Aku sendiri merasa justru yang butuh dihibur adalah dirinya, karena sepanjang perjalanan ini Riva terus mengomentari orang-orang di sekelilingnya seolah semua orang telah membuat kesalahan dan pantas menjadi sasaran komentar pedasnya.
“Iya makasih kamu udah ngajak jalan hari ini. But can you stop complaining?” ujarku lirih, telingaku sudah pegal menampung semua komentar-komentar miringnya. Terlepas dari semua itu, Riva adalah sahabat baik yang sangat perhatian denganku, sudah hampir sembilan tahun kami berteman dan dia menjadi orang yang paling cemas dengan kondisiku sekarang.
Dengan tangan kanan memegang setir mobil, Riva mencubit bahu kananku gemas,”Huuh, kamu ini? Maaf kalo aku nyerocos sampai bikin kuping sakit, but I looked everything around us is so mess,”
Lebih berantakan hatiku,’ keluhku dalam hati,
 Kami akhirnya sampai di mal tempat kami akan nonton. Saat aku baru turun dari mobil, Riva berlari ke arahku dengan wajah aneh,”Gis, lihat arah jam tiga,” perintahnya.
Aku menoleh ke arah yang ditunjukkannya. Berdiri seorang pria cukup jangkung dan gagah dengan kacamata hitam yang menghiasi wajahnya sempurna. Pria itu bersandar di samping mobil Yaris warna hitam miliknya, sembari mengutak-atik handphone.
“Hmm, target? Atau itu salah satu mantanmu yang entah keberapa?” tanyaku penuh selidik. Riva adalah gadis yang mudah jatuh cinta. Dia paling lama betah berpacaran hanya dalam tempo dua bulan, tapi dia tidak pernah berselingkuh hanya saja dengan  Riva mudah sekali bosan.
Yang tak kusangka, pria itu menoleh ke arahku. Aku tertangkap basah sedang memelototinya dengan penasaran,”Giska!” panggil pria berkacamata itu.
“Hah, siapa dia Gis? Kenapa kamu nggak pernah ngenalin cowok sekeren itu sama aku sih?” gerutu Riva.
“Aku sendiri juga lupa siapa dia, Riv!” sergahku.
 Pria itu berjalan mendekat ke arahku dan Riva. Ia tampak keren dengan balutan jins biru tua belel dengan kaus polo berkerah warna hijau tua, serasi dengan kulitnya kuning kecokelatan.
“Sudah lupa denganku ya? Ini aku Kevin, teman sekelas waktu SMP dulu,” Kevin menyebutkan namanya sambil melepas kacamata hitamnya. Astaga ternyata dia Kevin yang dulu tubuhnya kurus kerempeng dan pemalu itu, sekarang telah berubah menjadi pria macho dan gagah seperti ini.
Seketika aku terlempar pada kenangan belasan tahun lalu saat aku masih duduk di bangku SMP. Kevin yang dulu sangat canggung tetapi cerdas, telah merebut perhatianku saat kami duduk di bangku kelas dua. Matanya tajam dan indah. Kecerdasannya membuatku lebih tertarik dibanding dengan kawan-kawan laki-laki lainnya yang sok pamer kekerenan atau kekayaan. Dulu aku juga sering mendapati Kevin diam-diam mencuri pandang padaku. Namun, semuanya tidak berkembang menjadi kisah cinta karena waktu itu kami terlalu malu untuk mengungkapkan perasaan masing-masing.
“Heh, kok malah ngelamun sih Gis? Jangan-jangan kamu udah lupa sama aku ya?” Kevin mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku.
Kontan saja mukaku memerah karenanya. Entah kenapa suara Kevin terdengar seperti lonceng yang bersuara nyaring namun tidak membuat sakit telinga. Rasanya ada dentam besar yang mengiringi bunyi itu, gema yang menyenangkan. Ah, gawat apa yang kupikirkan ini?
Aku menggeleng dan tersenyum malu. Kevin balas tersenyum sampai gigi geligi rapinya tampak. Mata itu masihlah sama. Mata tajam bagai telaga yang membuatku ingin menyelaminya.
***
Aku tidak pernah percaya dengan konsep jatuh cinta pada pandangan pertama. Buatku cinta baru bisa tumbuh ketika dua orang sering menghabiskan waktu bersama, mengenal kepribadian masing-masing dan sesekali mengalami pertengkaran yang justru merekatkan hubungan. Cinta yang disebutkan dari pandangan pertama itu bukanlah cinta, melainkan sebentuk rasa kagum. Dan selama ini aku yakin jika kekuatan cintaku untuk Valdo sangatlah kuat walau ia pernah melakukan kesalahan. Tetapi aku lupa, hati manusia adalah benda yang sangat rentan. Pikiran terkadang tak bisa terkoneksi baik dengan hati. Dan aku terlalu sombong untuk mengakui hal itu. Karena hatiku sekarang sedang dihantam gelombang pasang yang membuatku gelisah. Gelombang itu bernama Kevin.
“Malam minggu ini mau jalan kemana?” tanya Kevin ketika kami sedang makan siang bersama di kafetaria dekat kantorku. Kebetulan kantor Kevin dan kantorku hanya berjarak sepuluh menit mengendarai mobil.
Aku berpikir. Sudah dua malam minggu ini aku berkencan dengan Kevin dan aku telah  berbohong pada Valdo,”Aku sudah kehabisan alasan. Dua minggu lalu aku mengarang alasan sedang pergi dengan Riva, minggu lalu aku bilang kalau sedang ada acara keluarga. Minggu ini kurasa aku harus pergi dengan Valdo,”
Kevin mengerutkan alisnya. Mulutnya ingin mengucap sesuatu tapi ia tahan. Kevin sendiri yang mau menjadi kekasih gelapku, walau pasti itu mengiris harga dirinya sebagai pria,”Kapan kamu mau lepas darinya?” tanyanya sabar.
Aku sendiri tidak tahu pasti. Apakah saat hati terbagi, cinta akan benar-benar menjadi adil? Aku seorang perempuan, tapi entah apa hatiku ini sudah berubah menjadi sepengecut ini? Aku tak ingin melepas Valdo ataupun Kevin.
 Melihat kediamanku, Kevin mendengus pendek lalu ia memalingkan tatapannya ke arah lain. Kami sama-sama terseret kembali ke dalam pesona masa lalu. Enam bulan lalu Kevin baru saja putus dari kekasihnya yang tertangkap basah berselingkuh.
“Kamu juga berhak berbahagia kan, Gis? Kamu terlalu baik untuk terus bersama laki-laki seperti Valdo,”
“Aku tahu rasanya,” sahutku,”Sekarang aku tahu bagaimana galaunya ketika hati dan kerinduan kita sedang terbagi. Selama ini aku menyepelekan rasa bersalah Valdo. Jujur, sekarang aku merasa tidak berharga karena sudah tidak setia,” tak terasa dua bulir air mata bening merayap turun hingga pandanganku sedikit kabur.
Sakit ya. Sakit sekali rasanya ketika kita melanggar prinsip kita sendiri. Apakah perasaanku pada Kevin ini tulus ataukah sebagai sebuah pelarian? Apakah perasaanku pada Valdo memang sudah musnah atau aku hanya ingin membalas dendam? Tapi baik perasaanku pada Kevin dan Valdo, sama-sama memiliki ketertarikan sendiri. Dengan Valdo, aku bisa menunjukkan sisi dewasa dan ketegaranku sedangkan dengan Kevin aku bisa menunjukkan semua luka yang kupendam. Aku ini punya dua sisi yang membingungkan.
Drrt, Drrt, handphoneku bergetar, ada nama Valdo terpampang di layar,”Halo,”
“Halo sayang. Malam nanti ada waktu kan? Nanti aku jemput jam delapan ya, udah lama kita nggak nonton bareng,” suara Valdo terdengar renyah. Hatiku sedikit ngilu mendengarkan intonasinya yang penuh nada kerinduan. Kevin membuang muka tanda jengah. Setelah berbasa-basi sebentar aku mengiyakan ajakan Valdo. Sebagian hatiku juga merindukan sosoknya.
“Jadi?” tanya Kevin retoris.
Aku mengangguk dan menyesap habis orange juiceku. Setelah itu aku dan Kevin menghabiskan makan siang kami tanpa berkata-kata. Bahkan saat mengantarkanku kembali ke kantorpun, Kevin hanya diam dan mengemudi dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya. Aku mahfum. Pasti ia sedang terbkar cemburu dan tidak terima dengan ketidaktegasanku.
***
Sudah tak tahan rasanya aku menyimpan kebusukan ini terus-menerus. Tatapan Valdo yang amat mesra dan genggaman tangannya yang erat, menunjukkan betapa rindunya ia kepadaku. Valdo juga membicarakan rencananya untuk segera meminangku, apalagi kami sudah saling mengenal baik keluarga masing-masing.
“Sayang, apa kamu tidak terlalu terburu-buru untuk menikah?” aku berharap rencana ini masih sebatas angan-angan saja.
Valdo menggeleng mantap,”Aku memang merasa tak pantas untuk mendapatkan wanita sebaik dirimu, sayang. Tapi aku tahu, terlalu lama meratapi diri hanya akan semakin menjerumuskan diriku. Aku sadar, hanya kaulah yang ingin kulihat tiap pagi saat bangun dari tidur,”
“Aku selingkuh,” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.
Efek dramatis muncul di wajahValdo. Wajahnya yang riang berubah menjadi penuh tanda tanya,”Ap..Apa? Tapi bagaimana bisa?”
Dalam satu helaan nafas panjang aku memuntahkan semua gumpalan menyesakkan ini. Herannya, Valdo sama sekali tidak marah atau menghakimi. Menurutnya itu wajar terjadi karena mungkin aku sudah terlampau kecewa padanya.
“Terus terang aku terkejut. Tetapi aku tetap kukuh pada keputusanku. Cintamu itu hanya cinta sesaat, Giska sayang,” Valdo berusaha menjaga ritme suaranya agar tidak bergetar.
Aku berdiri. Kutinggalkan Valdo dengan hati yang hancur berantakan. Kutelepon Kevin dan kukatakan jika aku sudah mengatakan semuanya pada Valdo.
“Jadi, kita sekarang bisa bersama?”
“Tidak. Aku juga tidak akan memilihmu. Maafkan aku Kev,”  kututup telepon sebelum tangisku semakin keras terdengar.
Sempurna. Hujan gerimis mulai turun dan aku tidak membawa payung. Kuputuskan untuk berjalan di bawah hujan, berharap tangisanku tidak menarik perhatian. Hatiku benar-benar patah menjadi dua bagian. Dua bagian itu tercerai bersama dengan dua pria yang sama-sama kucintai. Ah, brengsek sekali aku ini. Selalu berkoar soal kesetiaan dan ketulusan cinta, tapi ternyata ujung-ujungnya nol besar.
“Wanita cantik tidak seharusnya jalan-jalan sendirian di tengah hujan begini,” sebuah suara menghanyutkan membuat lamunanku berhenti. Seorag pria jangkung dengan lesung pipit manis membagi payungnya denganku.
“Terima kasih,” jawabku singkat.
Jantungku yang semula seolah berhenti berdetak mulai bekerja lagi. Hei, ini gila. Aku belum mengenal namanya. Apakah ini tanda sebuah rasa? Tuhan, tolong hentikan waktu sekarang juga.

Kenangan Stasiun Balapan


by. ©full The Kick


KOTA SOLO. Melihat pojok kanan atas HP, tertera 02:02 WIB. Terasa kereta Argo Lawu mulai berlajan pelan. Aku pun mengintip keluar lewat jendela. Terlihat satu-satu penerang ruas stasiun terlewati dan kereta berhenti, tepat saat pandangan mata melihat puluhan warung berjajar dan beberapa lapak penjaja malam diterangi neon. Tak luput pula berbarisan orang-orang yang hendak menjemput berdiri di sisi jauh stasiun. STASIUN BALAPAN, tertulis jelas di atas sebuah pintu.

"Alhamdulillaah ...," gumamku, "aku tiba dengan selamat."

Segera kukemas beberapa sisa bekal yang tertaruh di rak jok, lalu memasukkannya dalam tas dan berdiri antri hendak keluar.

"Huufft!"
"Bismillaah ...."
Dengan sedikit melompat dari pintu kereta, aku pun berjalan menepi melewati beberapa rel.

"Neng Stasiun Balapan
Kutho Solo kang dadi kenangan
Kowe karo aku ...
Naliko ngeterne sliramu ...."

Sebuah baris lagu Dedi Kempot terngiang diingatan. Senyum pun mengembang hingga tak terasa aku telah berdiri di depan lapak seorang wanita tua.

"Ayo ... ngopi sik, Le!" tegurnya padaku dengan menawarkan dagangannya. [1]
"Njeh, Mbah. Wedang Ronde wonten?" jawabku dengan dialek Solo. [2]
"Enten ... monggo lenggah," jawab Simbah dengan mengambil cangkir dan lepek. Aku lalu l menarik kursi kayu panjang untuk meletakkan pantatku yang penat.

***

"Ma—as!!!"

Panggilan itu tak asing di telinga, bersegera aku memalingkan kepala kearahnya.

"Haaah!!!"
Terperanjat saat mata kami—aku dan dia—beradu. Seorang gadis anggun tengah melangkah ke arahku. Berkibasan rok panjangnya. Baju gamis menawan mata dan hijab yang dipakainya pun kian membuatku tak berkedip.

"Da—Danik!" pekikku lirih. Jangan sampai aku salah orang.

Tepat dia di hadapanku, dia bersegera meraih tangan kanan dan mencium ujung jemariku. "Ya aku, Radiyani-mu, Mas!" jawabnya dengan senyum—tentunya terindah untukku. Belum juga selesai kekagumanku, dia menyodorkan handuk kecil, sikat gigi dan beberapa peralatan mandi—bau harum alias bau toko. Aku masih berfikir begitu perhatiannya padaku hingga hal sekecil itu dia perhatikan.

"Eh ... bengong!" sergahnya, "mandi dulu, Mas, karena tidak mungkin di kost khusus putri, Mas akan mandi!" lanjutnya. "Lagian badanmu dah cem-acem!"
"O—o, ... ya!" Aku masih tergagap.

Plak!
Jemariku pun menepuk jidat. Kenapa 180% dia—Danik—berubah, ya? Dulu dia lugu, dulu pemalu. Dan dulu dia tak semodis sekarang. Atau karena anak kuliahan? Uuuh, jadi ... jadi minder, batinku.

"Ayo! Jangan bengong, ahhh!" Tarikan tangannya menyadarkanku dan kami pun berjalan menuju kamar mandi di pojok kanan stasiun.

***

"Nambah, Le!"
Teguran Simbah penjaja wedang Ronde membangunkan khayalanku.

"Oh ... njeh, Mbah!" Lalu kusodorkan secangkir kosong itu. Sepotong bakwan pun ikut
kusumpalkan di mulut.

"Kalau ke RS Moewardi, enaknya nitih nopo, Mbah?" [3]
"Makan disik, Le. Suaramu tidak jelas," jawab Simbah.
"Oh, ... maaf, Mbah? Kalau ke RS Moewadi nitih nopo, Mbah?" tanyaku mengulang karena pertanyaan pertama terganjal bakwan.

"Ojek wae, Le. Dekat kok! Tapi sebaiknya rehat dulu, tunggu agak pagi saja," jelas Simbah.

Lalu kami asik bercerita tentang kehidupan malam di Stasiun Balapan. Dari pengalaman Simbah menjaja berpuluh tahun di sini.

***

Dalam kamar mandi, aku masih meluput penasaran. Kok dia sudah ... oh, sudah sedewasa ini. Ya, karena mungkin tempat kuliahnya yang mengubah pola pikirnya. Tidak seperti masa SMU dulu, walau cantik siih .... Dulu dia berambut panjang, dua dekik (lesung pipinya) masih sama, bulu mata lentik pun juga dan yang cerianya, duh kini tambah menggelitik hatiku. Mungkinkah aku kembali jatuh cinta? Gejolak batinku.

"Gimana sekarang?" tanyaku.
"So ... sweet!" jawabnya riang, sesungging senyum terhadiahkan untukku. Dari caranya
menatapku, dari cara berbody laguage[4], dan dari gerak-geriknya. Aku rasanya kembali dimanja oleh Ibu.

"Hemmm sekarang ... makan! Karena Mas yang sudah kerja, jadi traktir ya ...," lanjutnya
menggoda.
"Kok? Aku tamu kan, Nik!"
"Ya ... tamu hatiku!" jawabnya masih seperti cinta SMU-ku. Masih tanpa sedikit pun sungkan.
Dan, bedanya cara memperhatikan keadaan dàn pola pikir yang hendak aku lakukan sepertinya dia bisa menjawab sebelum aku utarakan.

"Sini saya yang lipat. Dan masukin!" Sembari meraih handuk di pundakku, serta secepat kilat menyodorkan plastik hitam dan membukanya. Settt, settt ... sett. Selesai melipat handuk, tanpa pikir panjang lagi kembali dia menariku. Kali ini tujuannya di sebuah warung makan.

"Gudeg ... njeh, Bu. Kalih?" Danik memesan dua porsi makanan. "Di kost tidak ada nasi, Mas! Hihihihi ...."

Ampuuun! Tertawanya membuatku berdesir-desir ..., puiih rindu ini seperti gunung es yang meleh. Meluber ke ruas-ruas jantung, darah dan nadiku. Rasanya ingin mencubit sesuatu di pipinya.

"Kok!?"
"Apa? Aku berjilbab!"
"Tidak ...tidakkk! Tidak jadi ... sudah kau tebak!"
"Hahaha, Masku yang dulu bawel, kini ..., weeek! Hihihi ...."

Semakin pucat mukaku, karena dia kian menggoda. Andai bukan di warung mungkin
sendokku telah terlepas.

"Tapi Mas makin ganteng, lho?!"
Duh, sabel pedas yang aku kunyah terasa manis, sayur ini entah enak atau tidak, yang jelas saataku makan tak beda dengan makanan di mall-mall atau resto terkenal di Jakarta. Aku melambung. Akhirnya kami disibukkan dengan sepiring hidangan. Setelah selesai dan membayar, baru aku teringat, "Kamu ke sini sedirian?"

"He—eh, yuk ... motornya ada di parkiran. Ini demi ... demi kamu, Mas!"

Duuuaar!
Petir menggelegar dalam dada. Dag ... dig ... dug! Menampar jantungku—GeRe kali. Aku terbang oleh kekata mautnya. Pagi ini terjatuhi durian. Pagi ini aku tertawan perasaan. Dan pagi ini aku katakan dalam hati, ini adalah salah satu kisah terindam dalam hidupku. Dia pun menggandengku tempat parkir.

***

Motor tua membawaku pagi ini untuk mengintip suasana kota Solo. Pemandangan yang mengasikkan. Beberapa pengendara ontel lalu-lalang, sayang hal ini tak bisa kunikmati dengan sempurna karena aku telah tiba di depan loby RS Moewardi.

***

Empat tahun semenjak perpisahan sekolah SMU kami terpisah, dan pagi ini hampir disuasana yang sama cuma berbeda status, Danik mengajakku berkeliling di antara ruas-ruas gedung. Universitas Muhammadiyah Surakarta begitu bunyi pengejekaku kala memasuki gerbang tadi.
Kami lalu memutuskan untuk duduk dan bercerita tentang hidup setelah SMU, 'ngalor-ngidul', 'ngetan bali ngulon' seperti itu pepatahnya. Titik-titik perpisahan kami, detik-detik pembeda, rasa hilang, tertawar sinar mentari pagi dan senyum ikhlasnya.

"Lalu ... nanti ke kantor cabang jam berapa, Mas?"
"Ah ... malas, enakkan di sini," jawab. Aku coba satu trik cowok, penggoda!
"Hihihi ... ono-ono wae, gak mutu!" terkekeh tawa Danik, walau dia tutup mulutnya dengan jemari kanannya.[5]
"Lho? Salah ... to?"
"Gak, gak nate salah pean, Mas!"
"Lha, itu tadi!"
"Ya, paling untuk sekedar bunga-bunga bicara, Mas, wae. Basi .... basi ...! Basa-basi ...,"
jawabnya sembari melemparkan kerikil, entah ... dia dapat dari mana tadi, aku tak sempat memperhatikan. Ya ... aku masih kikuk, memandangnya lekat pun curi-curi saat dia berpaling ke tempat lain. Aku masih grogi. Aku masih takut untuk memulai lagi kenangan yang berlalu.

"Aku kuliah di sini, minimal aku bisa berubah.seperti sekarang, Mas. Kegiatan ROHIS kampus ternyata membawa hasil positif. Walau besok entah, aku belum tahu mau jadi apa."
"Ibu rumah tangga!"
"Hahaha ... bila berani, datang dan mintalah pada ayah-ibu di rumah."
'What?"
"Sudahlah ... aku nanti ada ujian juga Fisologi Manusia, jadi ... Mas di antar kemana, niih?"
"Nik, Kamu marahkah? Atau kàmu sudah ada pilihan? Kenalkan padaku Nik?!"
"Oh ... tidak. Aku juga sama sekali belum memikirkan cowok semenjak lulus SMU. Aku masih menyimpannya. Mungkin kita terlalu serius, Mas," jawabnya sembari menghindari pandangan mataku.

Dari perkataannya yang teduh. Dari cara menghormatiku. Aku jadi yakin geresan kenangan kami masih jelas tersambung. Aku memutuskan untuk berfikir dan mungkin nanti ada saat yang terbaik untuk mengungkapkannya.

***

"Stop, Suster! Tunggu!" sergahku. Setelah berkeliling mencari sebuah nomor kamar rawat inap, dan baru saja hendak menemukannya, namun beberapa sustet telah mendorong tempat tidur kakakku dari ruang tersebut keluar.

"Mas, yang sabar. Operasi ini pasti lancar. Maaf aku datang telat."
"Yo, Kik. Insya Allah," jawab Kakak dengan jelas.

Lalu kami berjalan ke ruang operasi dan saya mengikuti di sampingnya sembari menjelaskan sesuatu halnya.

"Ibu-bapak, paling sebentar lagi juga datang Kik, karena jadwal di percepat, dokter ada janji bedah di tempat lain," jelas Kakak. Oh, pantas kok tidak ada yang menunggui Kakak, batinku memikirkannya.

***

Hari yang sempurna, lengkap, manis dan sukses. Pagi dihidangi percakapan indah, bahkan sesekali joke-joke Danik terkirim lewat SMS sewaktu bekerja, dan aku pun membalas dengan ledekan-ledekan juga. Tepat 18:00 waktu Solo, setelah berjanji bertemu kembali di Stasiun Balapan, Danik menepati janji yang kedua di tempat yang sama. 30 menit aku manfaatkan untuk mengungkap rasa hatiku dan LDR pun kenyataan. Dia menerima uluran cinta yang kedua—karena SMU juga.

"Neng Stasiun Balapan
kutho Solo kang dadi kenangan
Da ... da--da sayang ...
Da, selamat jalan"

Bait-bait lagu kembali mengisi batas khayalku. Jemari tanganku masih terasa hangat oleh ciuman bibirnya. Oh, ... betapa bodohnya aku. Karena mimpi itu tak pernah bisa kuwujudkan karena ketakutanku akan arti "tanggung jawab seorang suami" yang membelenggu pikiran waktu itu. Padahal dia sering mengatakan, "Aku siap, Mas!"

Entahlah setan mana yang menggodaku. Dia yang sempurna untuk ukuran kaum hawa baik dari pendidikan agama, ilmu dunia dan yang terpenting keikhlàsan menerima aku apa adanya. Tetapi aku bersiteguh dengan kata hati. Ini bukan takdir jodohku. Begitu bodoh aku mengambil keputusan. Aku yang lenyap dan membuangnya jauh hinggaJadi kenangan STASIUN BALAPAN, SOLO. Tak berani mengambil keputusan terpenting. Menyedihkan!

***

Kreeek!
Pintu ruang bedah terbuka. Seorang perawat keluar lengkap dengan masker, sarung tangan, dan perlengkapannya.

"Suster, bagaimana Masku?"
"Mas!!!" Suara dan tatapan itu persis sembilan tahun lalu. Dan ...
"Oh ...." Mataku dan mata Sustet beradu. "Da—Danik!" desisku sembari menutup mulut dengan jemari tangan. Mataku terbelalak. Rasanya tak percaya.

"Masmu sukses dioperasi, Mas, tunggu saja di ruang rawat inapnya, sebentar lagi kami antar lengkap dengan laporannya," jawabannya dingin. Dia pun berlalu meninggalkanku mematung diri dikenangan. Aku terlemas dalam kebodohan.

--end--

[1] minum kopi dulu, Nak.
[2] Ya, Mbah. Wedang Ronde ada?
[3] naik apa?
[4] gerak tubuh
[5] ada-ada saja
Jakarta, 09 Januari 2014