
Jujur saja, pertama kali membaca judul buku ini, saya merasa dipinggirkan. Kenapa harus Bunda yang tidak boleh bercerai? Apa karena wanita itu lemah dan mudah memaafkan? Kenapa Mbak Asma sekli-kali tidak membuat buku tentang ayah? Lagi-lagi Bunda. Padahal kebanyakan perceraian terjadi karena ayah. Kenapa selalu wanita yang dipojokkan? Well, untuk kali ini, saya tidak mendukung judul buku ini, tidak seperti judul-judul bukunya Mbak Asma lainnya. Boleh dibilang, saya kecewa karena buku itu seolah mencegah saya untuk mengajukan gugatan cerai.